Bismillâhirrahmânirrahîm
Segala puji bagi Allah Rabbul-‘Alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu
wa Ta'ala yang telah mengumpulkan kita di tempat yang baik ini - dengan
izin Allah - laksana satu hati dalam tubuh satu orang, sehingga kita
menjadi saudara-saudara yang saling mencintai. Al-hamdulillah, segala
puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberikan taufik, serta
menganugerahkan kemudahan kepada kita untuk menuntut ilmu (syar’i),
(yang) telah menjadikan kita termasuk orang-orang yang berilmu, dan
orang-orang yang berjalan mengikuti jalan ilmu.
Sebelum segala sesuatu dimulai, saya berwasiat kepada diri saya sendiri
dan kepada hadirin semua untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa
Ta'ala. Sebab, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan himpunan
segala kebaikan. Takwa merupakan pangkal kebenaran hakiki bagi setiap
Muslim, khususnya bagi setiap dai. Takwa merupakan bekal yang sejati
bagi setiap Muslim.
"Berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan
bertakwalah kepada-Ku, hai orang-orang yang berakal".
[al-Baqarah/2:197].
Takwa merupakan sebab pertama di antara faktor dimudahkannya rezeki.
Barangsiapa menghendaki keluasan rezeki yang baik, berupa harta benda,
ilmu, isteri shalihah, anak-anak shalih, taufiq, ataupun kebahagiaan
dunia dan akhirat yang semua ini merupakan rezeki, akan Allah Subhanahu
wa Ta'ala menganugerahkan rezeki-rezeki ini, jika ia bertakwa kepada
Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَـلْ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيْقٍ مَخْرَجًا وَ مِنْ
كُلِّ هَمٍّ فَرَجاً وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبْ
"Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Allah membuatkan baginya
jalan keluar dari segala kesulitan, kelapangan, dari segala kesedihan,
dan Allah akan menganugerahkan rezeki kepadanya dari arah yang tidak ia
duga".[1]
Jadi, takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala merupakan pondasi bagi
kehidupan ini. Namun, takwa kepada Allah bukanlah kalimat yang hanya
sekadar diucapkan dengan lidah. Ia merupakan perkara yang ada di dalam
hati. Setiap Muslim, bahkan setiap penuntut ilmu, wajib menghiasi diri
dengan takwa dalam semua urusan hidupnya. Sebab takwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala adalah benteng bagi seorang Muslim dari segala
perkara yang mengotorinya dalam kehidupan dunia ini, sebagaimana telah
kita baca dalam Al-Qur`an surah al-Ahzâb:
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan
katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa
mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat
kemenangan yang besar". [al-Ahzâb /33:70-71].
Seorang penuntut ilmu, jika ia pertama kali dapat mewujudkan takwa pada
dirinya serta dapat memeganginya dengan teguh dalam semua sisi
kehidupannya, niscaya –dengan idzin Allah- ia akan dapat mewujudkan
takwa ini pada diri orang lain.
Akan tetapi amat disayangkan, sebagian penuntut ilmu mengajak orang lain
untuk bertakwa, namun ia sendiri mengabaikan takwa kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala. Dia mengajak orang lain untuk bertakwa, selalu
mengucapkan kata-kata takwa siang malam, menganjurkan orang supaya
bertakwa, dan selalu mengatakan kepada orang lain “bertakwalah dan
kerjakanlah amal shalih!”, namun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang
ia tekankan kepada orang lain.
Hal paling penting lainnya dalam hidup, sebagai salah satu konsekuensi
takwa, ialah bahwasanya harus ada hubungan persaudaraan yang kuat,
khususnya antar para penuntut ilmu. Ukhuwah diniyah (Islamiyah) memiliki
pengaruh yang baik dalam kehidupan ini. Setiap kawan (shadîq), setiap
muslim akan memiliki pengaruh jelas bagi kawannya dalam hidup. Apabila
seorang muslim bersahabat dengan orang baik, maka kebaikan ini akan
berpengaruh pada dirinya. Tetapi, jika ia bersahabat dengan orang yang
tidak baik, orang yang kegiatannya tidak mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta'ala, tidak juga dekat dengan (ajaran) Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka hal-hal buruk ini pun akan
berpengaruh pada dirinya. Maka, perhatikanlah oleh seseorang, siapa yang
akan ia jadikan kawan dekatnya.
Ukhuwah Islamiyah yang hakiki diserukan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam. Begitu juga Al-Qur`an pun memerintahkannya. (Allah berfirman:)
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah ikhwah (bersaudara); karena itu,
damaikanlah antara kedua saudaramu". [al-Hujurat/49:10].
Kata "ikhwah" (bersaudara), ketika kita mengatakan “sesungguhnya
orang-orang mukmin itu ikhwah (bersaudara)", adalah kalimat yang tidak
mudah. Maksudnya, seakan-akan Anda dalam hubungan (persaudaraan antar
mukmin) ini mempunyai pertalian yang sangat erat. Hubungan persaudaraan
ini bisa lebih kuat dari persaudaraan nasab. Apakah gerangan yang
mengikat persaudaraan ini? Yang mengikatnya, ialah dinul-Islam yang
hakiki, ukhuwah Islamiyah yang benar dan hakiki, serta persahabatan yang
hakiki.
Sebab banyak orang mengikat persaudaraan dengan orang lain, atau
berkawan dan bersahabat dengan orang lain disebabkan oleh kepentingan
tertentu. Persahabatan tersebut akan terwujud jika kepentinganya muncul.
Namun, jika tidak ada kepentingan, (maka) ia tidak kenal lagi, atau
bahkan mencaci-makinya.